Posted September 28, 2017 by Rino Rakhmata Mukti, Dr. rer.nat in Berita

KK Kimia Fisik dan Anorganik lahirkan Doktor Termuda Indonesia

PERS RILIS
Jumat, 22 September 2017
Grandprix Thomryes Marth Kadja, Doktor Termuda Indonesia

Kualitas pendidikan di Indonesia bagian timur dirasakan masih memerlukan peningkatan yang lebih lagi. Ditengah situasi ini, muncul seorang ilmuan muda berprestasi, Grandprix Thomryes Marth Kadja, yang berasal dari desa Tarus, Kupang – Nusa Tenggara Timur. Grandprix dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1993 dari pasangan Bapak Octovianus Kadja,SE dan Ibu Ir. Yeane Do Djeta. Keluarga bersahaja ini begitu mementingkan budaya literasi sehingga menumbuhkan minat membaca semenjak dini dalam diri Grandprix.

Grandprix menempuh pendidikan menengah atas di SMA Katolik Giovanni dengan program akselerasi selama 2 tahun (2007-2009). Selama menempuh pendidikan SMA tersebut, Grandprix menunjukkan kecintaannya terhadap ilmu kimia yang dibuktikan dengan menjadi juara 1 olimpiade kimia SMA se-provinsi NTT. Saat melanjutkan pendidikan Strata 1 (S1) di Kimia UI pada tahun 2009-2013, Grandprix tetap mengukir berbagai prestasi tidak hanya sebagai lulusan terbaik dengan predikat cum laude tetapi juga memperoleh Medali perak Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA) bidang Kimia dan Juara Nasional Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina kategori Science Project. Ketika menjuarai kompetisi science project tersebut, Grandprix mengajukan pemanfaatan material anorganik berpori nano (zeolit) sebagai material katalis untuk mengonversi limbah plastik menjadi bahan bakar. Hasil yang didapatkan menumbuhkan rasa keingintahuan Grandprix untuk mendalami ilmu katalis.

Pada tahun 2013, Grandprix mendapatkan beasiswa Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Program ini bertujuan menghasilkan doktor dengan waktu tempuh studi S2 dan S3 selama 4 tahun. Dua tahun setelah mendapatkan beasiswa PMDSU, Grandprix memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) dengan predikat cum laude. Selama menjalani studi pascasarjana, Grandprix melanjutkan passion-nya dalam bidang katalis di mana Beliau menekuni sintesis zeolit serta karakterisasinya menggunakan instrumen-instrumen canggih, seperti teknik spektroskopi dan mikroskop elektron. Zeolit berguna untuk perengkahan minyak bumi menjadi bahan bakar bensin dengan bilangan oktan yang tinggi. Teknologi ini bahkan dapat pula dikembangkan untuk memproduksi biogasolin dari minyak sawit mentah. Penelitian yang dihasilkan oleh Grandprix sangat potensial untuk dihilirisasi sehingga tercipta katalis nasional yang meningkatkan nilai keekonomian. Hal ini juga meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional mengingat sebagian besar katalis yang digunakan oleh industri petrokimia tanah air masih mengimpor dari luar negeri.

Selama menempuh pendidikan S2 dan S3-nya, Grandprix berkontribusi sangat baik dalam dunia ilmiah dengan menghasilkan 9 artikel ilmiah, di mana, 1 artikel dipublikasikan di jurnal nasional dan 8 lainnya dipublikasikan di jurnal internasional. Artikel-artikel yang dipublikasikan di jurnal internasional, 7 diantaranya terindeks Scopus. 4 artikel dipublikasikan pada jurnal yang bereputasi sangat baik (Q1) dengan kisaran impact factor 2,6 hingga 5,7. Pada Jumat, 22 September 2017, Grandprix berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Zeolit ZSM-5 Hierarkis Bebas Mesoporogen: Sintesis, Mekanisme dan Peningkatan Tingkat Hierarki” dan mengukuhkan diri sebagai Doktor termuda se-Indonesia pada umur 24 tahun.

Keahlian Grandprix dalam bidang Kimia Anorganik telah dipresentasikan dalam berbagai seminar ilmiah dihadapan komunitas saintis Indonesia. Kiprahnya Grandprix tidak hanya diakui di dalam negeri tetapi juga mendapat pengakuan dari pihak luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan presentasi ilmiah di berbagai seminar internasional. Bahkan, Beliau pernah diundang untuk memberikan seminar di Department of Chemistry, University of Bath, United Kingdom.

Segudang prestasi tersebut tidak menghalanginya dalam dunia nonakademik. Baginya pergaulan dengan teman-teman tidak kalah penting. “work hard, play harder” merupakan motto hidup dari doktor termuda ini.

11

Foto bersama Tim promotor, Tim Penyanggah dan Ketua Sidang Terbuka Doktor ITB.

09

Sidang Terbuka Doktor ITB turut diliput pihak media TV dan surat kabar.

09

Orang tua dari Dr. Grandprix Kadja diwawancara oleh CNN Indonesia.